Sabtu, 27 Juli 2019

Ayah Perkosa Anak Kandung Berumur 16 Tahun di Lampung, Kepergok Istri & Ancam Bunuh Korban

https://jurnalulasan.blogspot.com/

Baru-baru ini seorang gadis 16 tahun di Tulangbawang Barat, Lampung menjadi korban pemerkosaan.

Malangnya pelaku pemerkosaan tersebut tak lain adalah ayah kandungnya sendiri.

Kejadian nahas terungkap pada Sabtu (13/7/2019) oleh sang istri.

1. Kronologi Kejadian

Kejadian bermula ketika anak kandungnya, DA (16) sedang menyetrika pakaian di dalam rumah.

Pelaku, ER (36) kemudian memperkosa DA.

Kala itu sang ibu, YA (35) tengah tidur di dalam kamarnya.

Alangkah terkejutnya YA ketika bangun tidur menemukan DA dalam keadaan berhubungan badan dengan sang suami, ER.

Melihat kejadian tersebut YA langsung berteriak histeris lalu menghubungi keluarganya.

Kapolsek Lambu Kibang, Iptu Abdul Malik mewakili Kapolres Tulangbawang, AKBP Syaiful Wahyudi mengatakan, perilaku bejat tersangka terakhir terjadi pada Sabtu (13/07) sekitar pukul 05.30 wib. Bandar Judi Togel Online

http://togel303.net/

"Saat itu korban sedang menyetrika pakaian di dalam rumah mereka."

"Lalu pelaku terbangun dan terjadilah pemerkosaan itu," terang Abdul Malik, Minggu (14/07/2019).

2. Pelaku Sempat Kabur

Tak lama kemudian keluarga korban dan ibu kandung ER datang ke lokasi kejadian.

Mendengar kenyataan tersebut ibu ER sempat tak sadarkan diri.

Karena ibunya pingsan, ER berinisiatif untuk mengantar sang ibu kembali ke rumahnya.

Kesempatan ini ternyata digunakan ER untuk melarikan diri dan bersembunyi dari kejaran keluarganya.

YA lalu melaporkan kejadian yang menimpa anak kandungnya ini ke Mapolsek Lambu Kibang.

Berbekal laporan tersebut, polisi langsung mencari dimana keberadaan pelaku.

Sekitar pukul 22.30 WIB Sabtu malam, pelaku yang akhirnya pulang ke rumah orang tuanya yang berada tidak jauh dari rumah pelaku.

Di rumah orang tuanya tersebut, pelaku kemudian ditangkap lalu dibawa ke Mapolsek.

3. Korban Diancam Sajam

Mirisnya, tindakan tersebut bukanlah kali pertama.

Diketahui ER telah memperkosa DA sebanyak dua kali.

“Menurut keterangan dari pelaku kepada petugas, aksi bejat tersebut telah berlangsung sejak bulan Maret 2019," papar Abdul Malik.

Setiap melakukan aksi bejatnya, korban selalu diancam akan dibunuh oleh pelaku dengan menggunakan senjata tajam jenis pisau dapur.

Saat mencabuli anak kandungnya itu, rumah pelaku memang dalam keadaan sepi.

"Istrinya sedang tidak berada di rumah,” ungkap Iptu Malik.

4. Pelaku Terancam Hukuman 6 Tahun Penjara

Dalam perkara ini, polisi telah menyita barang bukti berupa sajam jenis pisau dapur bergagang kayu coklat beserta sarungnya yang  berukuran 25 centimeter.

Kemudian baju tidur lengan panjang motif kembang-kembang, celana panjang jenis short garis-garis putih kombinasi coklat, pakaian dalam korban dan tikar plastik yang digunakan pelaku saat melakukan aksi bejatnya.

Pelaku saat ini masih dilakukan pemeriksaan secara intensif di Mapolsek Lambu Kibang.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku akan dijerat dengan Pasal 82 ayat 2 Jo Pasal 76E Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6,6 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp. 6,6 Miliar.

Gadis 19 Tahun Mabuk Diperkosa 6 Pemuda di Sumenep, Ini Fakta-faktanya

https://jurnalulasan.blogspot.com/

Sejumlah fakta terbaru terungkap terkait kasus gadis 19 tahun mabuk diperkosa enam pemuda di salah satu kamar kos, Desa Kolor, Kecamatan Kota, Sumenep, Kamis (25/6/2019).

Fakta terbaru kasus gadis 19 tahun mabuk diperkosa enam pemuda di kamar kos di Sumenep ini terungkap berdasarkan informasi dari masyarakat termasuk kerabat korban. Bandar Judi Togel Online

http://togel303.net/

Berikut SURYA.co.id rangkum fakta-fakta terbaru tentang kasus gadis 19 tahun mabuk diperkosa enam pemuda di kamar kos di Sumenep.

1. Terungkap dari Laporan Warga

Dikatakan, terungkapnya pemerkosaan tersebut berawal dari laporan warga termasuk kerabat korban bahwa di salah satu rumah kos di Desa Kolor, telah terjadi tindak pidana pemerkosaan yang melibatkan 6 orang pelaku dengan satu korban perempuan berinisial AA.

“Informasi awal itu kemudian kami tindak lanjuti dengan mendatangi rumah korban di Desa Kebunan, untuk dilakukan pemeriksaan,” kata Widiarti yang juga merangkap Kapolsek Kota ini.

Dan benar, berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengakuannya, korban AA telah diperkosa oleh pacarnya sendiri dan 5 kawannya.

Korban diperkosa beramai-ramai setelah korban tak sadarkan diri akibat decekoki minumas keras ( miras ) di rumah kos tersebut.

2. Identitas Pelaku

Pelaku, adalah RQ, warga jln Begisar Desa Pamolokan, MZ warga Kecamatan Tambelangan kabupaten Sampang, SB warga Jln Meranggi Kelurahan Kepanjen, HL warga Desa Pamolokan, OP warga Kecamatan Gapura, serta FR warga Desa Paberrasan.

“ Dua orang pelaku yakni FR dan OP kini masih dalam pengejaran, dan sudah diketahui keberadaannya,” imbuh Widi panggilan akrab Kasubag Humas.

3. Modus Pelaku

Modus pemerkosaan itu berawal ketika AA diajak jalan-jalan oleh pacarnya, OP, main-main ke tempat kos pelaku di Desa Kolor milik H. Musleh, pada hari Kamis (25/07/2019).

Sesampainya di rumah kos, sudah ada beberapa teman pacarnya yang siap menggelar pesta miras.

Korban yang sempat menolak dengan terpaksa meminum miras tersebut karena dipaksa hingga akhirnya korban tak sadarkan diri.

Saat itulah OP pacar korban memperkosa AA di hadapan teman-temannya.

“Selesai memperkosa, pelako OP lalu bergegas keluar kamar kos meninggalkan korban yang sudah tidak berdaya. Dan pada saat keluar kamar, pelaku sengaja mengunci pintu kamar, lalu kabur,” katanya.

4. Nasib Korban dan Pelaku

Kapolsek Kota langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah TKP, dan bersama jajarannya menjemput korban untuk dilakukan pemeriksaan.

Korban setelah menjalani menjalani pemeriksaan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak ( PPA ), kini tengah menjalani perawatan di RS dr H Moh Anwar, Sumenep.

"Ternyata benar dari hasil pemeriksaan, diketahui jika pelaku pemerkosaan adalah pacarnya sendiri, serta kelima temannya," katanya.

Empat dari enam pelaku kini sudah ditangkap dan di sel Polsek Kota, sedang dua lainnya buron.

"Dari enam pelaku yang berhasil kita amankan empat orang," tuturnya.

"Sedangkan dua pelaku belum bisa kita amankan atasnama OP, warga Kecamatan Gapura, dan FR, warga Desa Paberasan. Dan masih dalam pengejaran. Sementara itu ya," tambahnya. (Ali Hafidz)

Kasus Lainnya

Kasus hampir serupa juga pernah menimpa seorang wanita di Makassar

Dilansir dari Kompas.com dalam artikel 'Setelah Dibuat Mabuk, Wanita Ini Diperkosa di Masjid', Khaerul (28) memperkosa seorang wanita berusia 21 tahun yang sedang mabuk saat hendak mengantarnya pulang. Bandar Judi Poker Online

http://temanpoker99.info/app/Default0.aspx?lang=id

Khaerul melancarkan aksinya tersebut di lantai dua masjid di Kecamatan Makassar, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (18/7/2019) dini hari.

Kapolsek Makassar Kompol Kodrat Muhammad Hartanto mengatakan, aksi itu bermula ketika Khaerul mengajak korban menenggak minuman keras.

Saat itu, korban baru saja bertengkar dengan pacarnya yang kemudian di tengah jalan bertemu dengan Khaerul.

"Setelah korban mencari pacarnya, bertemulah dengan tersangka yang mana tersangka sedang minum dengan temannya dan korban ditawari minum," ucap Kodrat, Jumat (19/7/2019).

Usai membuat korban mabuk, Khaerul kemudian memutuskan mengantar pulang korban.

Melihat korban yang tidak sadarkan diri, pelaku tergoda dan kemudian mencabuli korban.

Khaerul melakukan aksinya di lantai dua masjid.

Aksi tersebut terlihat oleh warga sekitar yang hendak menuju masjid untuk shalat subuh.

Bersama warga lainnya, Khaerul kemudian diamankan.

"Jadi korban dibaringkan, dibawa masuk ke lantai dua masjid.

Sempat dilihat oleh warga saat terjadi tindakan tak senonoh dilakukan oleh pelaku di saat kondisi korban tidak sadarkan diri saat itu," ujarnya.

Saat hendak digiring ke kantor polisi, Khaerul berusaha melarikan diri.

Polisi yang mendapatkan laporan kemudian mengejar dan akhirnya menangkap pelaku.

"Pelaku awalnya masih mengelak sehingga dilakukan pemeriksaan secara intensif. Kita kumpul bukti-bukti. Sekarang diproses kasus pemerkosaan dan ditahan di Mapolsek Makassar," ujarnya. (Putra Dewangga Candra Seta).

Senin, 15 Juli 2019

Dugaan Salah Tembak Tim BNN RI, Keluarga Minta Keadilan ke Polda Sumut

https://jurnalulasan.blogspot.com/

Suasana duka terlihat masih menyelimuti pihak keluarga menyusul kematian M Yasin, yang diduga menjadi korban salah tembak saat tim BNN RI meringkus sejumlah anggota sindikat jaringan narkoba beberapa waktu lalu.

Hal itu terlihat ketika Keluarga almarhum M Yasin mendatangi Mapolda Sumatera Utara, Senin (15//7/2019). Mereka melaporkan kasus itu ke Mapolda Sumatera Utara, dengan dugaan pembunuhan sesuai Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) nomor: STTLP/989/VII/2019/SUMUT/SPKT III.

Kasus itu juga membuat mereka kini harus bolak-balik Kabupaten Batubara-Kota Medan.

Mereka berharap, BNN punya iktikad baik untuk menyelesaikan kasus ini, terutama pemulihan nama baik M Yasin dan beberapa orang lainnya yang sempat disebutkan masuk dalam jaringan narkoba internasional.

“Kami minta BNN klarifikasi atas kejadian itu,” kata Jamilah, adik kandung M Yasin kepada wartawan, Senin (15/7/2019).

M Yasin, jelas Jamilah, selama ini merupakan tulang punggung bagi istri dan kedua anaknya. Karena itu, pihak keluarga menuntut BNN supaya bertanggung jawab atas pendidikan anak almarhum M Yasin hingga selesai. Bandar Judi Togel Online

http://togel303.net/

“Kalau bisa sampai kuliah mereka. Sekarang ini, anak Bang Yasin masih SD, umur 10 tahun sama 6 tahun,” jelas Jamilah.

Selain santunan pendidikan, pihak keluarga juga meminta BNN membuat pernyataan maaf secara publik. “Karena itu harus mereka klarifikasi,” pintanya.

Menanggapi hal tersebut, Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumut yang juga tim kuasa hukum pihak keluarga M Yasin, melalui Koordinator Badan Pekerja M Amin Multazam Lubis mengatakan, klarifikasi itu harus dilakukan sebagai upaya memberikan rasa keadilan kepada korban. Dia juga mendorong upaya hukum harus ditegakkan.

“Jika ini dilakukan, akan menjaga kepercayaan publik terhadap BNN sebagai lembaga yang fokus dalam memerangi narkoba,” ungkap Amin.

Sebelumnya, Jamilah juga membeberkan bahwa saat akan membawa jenazah M Yasin, pihak BNN menemui mereka. Dan mengatakan ada salah seorang yang diduga Perwakilan dari BNN ingin menyerahkan uang Rp15 juta.

“Tadinya ditolak sama orangtua. Pas kita mau ambil jenazah, uang itu diberikan. Kata mereka bukan uang apa-apa. Ibu-ibu dari BNN yang ngasih,” ungkapnya.

Ia menjelasakan, pasca kejadian itu, beberapa perwakilan BNN bersama perkawilan Polres Batubara datang ke rumah duka Jalan Dusun I Masjid Lama, Desa Masjid Lama, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara.

Terkait laporan pihak keluarga M Yasi ke Polda Sumut ini, belum ada klarifikasi resmi dari BNN. Kepala Biro Humas BNN Brigjen Sulistiyo Pudjo ketika dikonfirmasi belum memberikan jawaban.

Muhammad Yasin meninggal dunia setelah timah panas diduga dari senjata api milik petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menembus tubuhnya, Rabu (3/7/2019). Keluarga mengatakan ada beberapa luka tembak yang bersarang di tubuh Yasin. (Lana)

Diberitakan sebelumnya, tim BNN melakukan penembakan ke arah mobil Avanza putih B 1321 KIJ yang saat itu membawa 3 penumpang, masing-masing Sulaeman, M Yusuf dan M Yasin.

Setelah mobil dihentikan, M Yasin ditemukan terkapar akibat luka tembakan, sedangkan M Yusuf terkena peluru di bagian kaki. M Yasin kemudian dinyatakan meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit.

Sabtu, 13 Juli 2019

Video Mesum 2 Oknum ASN Beredar, Diduga Disebarkan Kerabat Yang Sakit Hati

https://jurnalulasan.blogspot.com/

Satu rekaman video mirip 2 oknum ASN yang bekerja di lingkungan Pemerintahan Kecamatan Gunung Malela, Simalungun, beredar melalui grup WhatsApp. Video itu disebut disebarkan seorang kerabat yang diduga merasa sakit hati kepada 2 oknum tersebut.

Informasi yang dihimpun, sejumlah aparat keamanan berpakaian sipil, dengan mengendarai 3 mobil mendatangi Kantor Kepala Desa Pematang Gajing, Jumat (12/7/2019) pagi, untuk memeriksa beberapa saksi.

Ada dua rekaman video seronok itu, masing-masing berdurasi 20 detik dan 3 menit 30 detik. Pada kedua rekaman video itu terlihat dua orang mirip ASN di kantor Kecamatan Gunung Malela, berinisial BY (41) serta satu lainnya ASN di Kantor Kepala Desa Pematang Gajing berinisial LL (40).

Rekaman video dari kedua oknum yang masing-masing masih memiliki pasangan sah itu disebut dibuat pada tahun 2009.

Namun belakangan, video itu viral melalui akun WhatsApp di kalangan warga Kecamatan Gunung Malela.

“Suami ASN itu, perangkat desa di Pamatang Gajing, dan sejumlah warga Kecamatan Gunung Malela diperiksa di Kantor Pembantu Sat Reskrim Polres Simalungun di Komplek Asrama Polisi (Aspol), Jalan Sangnawaluh, Siantar, Jumat (12/7/2019),” sebut seorang sumber di Gunung Malela.

Dijelaskannya, pemeriksaan tersebut terkait viralnya rekaman video asusila oknum ASN yang mirip istri petugas pengamanan di salah satu perkebunan swasta dan oknum ASN di Pemerintahan Kecamatan Gunung Malela. Bandar Judi Togel Online

http://togel303.net/

Video diduga disebarkan kerabat oknum yang merasa sakit hati. Viralnya video tersebut membuat warga Gunung Malela heboh dalam beberapa hari terakhir.

Sabtu (13/7/2019) malam, menurut warga di sana, polisi masih mengejar sejumlah pelaku yang diduga mula-mula menyebarluaskan rekaman itu.

Polisi juga menyebukan masih ada sejumlah saksi tambahan yang baru akan didengar keterangannya.

Terkait beredarnya rekaman tersebut dan hasil pemeriksaan petugas, pihak kepolisian belum bersedia memberikan keterangan lebih jauh.

“Langsung Pak Kasat atau Pak Panzi,” kata Kanit Jatanras Polres Simalungun Iptu Hengky Siahaan, saat dikonfirmasi Sabtu (13/7/2019).

Terpisah, Camat Gunung Malela Andi Syahputra Pasaribu ketika dikonfimasi membenarkan bahwa polisi telah memanggil BY (41) dan LL (40), yang diduga pelaku dalam rekaman video, untuk diperiksa.

Meski begitu Andi belum bisa memastikan apakah benar kedua oknum tersebut adalah pelaku dalam rekaman video itu.

Camat Andi yang belum berapa lama menjabat di Gunung Malela itu juga mengaku dirinya belum pernah melihat rekaman video itu.

“Tapi kedua ASN itu sudah mengakui rekaman video itu dilakukan pada 2009,” sebutnya dari seberang telepon, Sabtu (13/7/2019) malam.

Jumat, 12 Juli 2019

ABG di Bekasi Diperkosa Pacar Hingga Hamil

https://jurnalulasan.blogspot.com/2019/07/abg-di-bekasi-diperkosa-pacar-hingga.html

Seorang ABG di Bekasi diperkosa pacarnya, YY, yang terpaut usia 20 tahun. Pria berusia 35 tahun itu menggaulinya berkali-kali hingga korban berbadan dua.

Korban yang berusia 15 tahun diketahui masih belajar di bangku sekolah menengah pertama. Awalnya, korban menolak diajak berhubungan intim. Namun, setelah dibujuk rayu, akhirnya korban bersedia melayani nafsu bejat pelaku.

"Ya awalnya mereka pacaran 1 tahun. Ya biasa, nggak terlalu jauh, ada hubungan intim. Nah, si cowok ini ngajakin (berhubungan), tapi si cewek nolak terus dan akhirnya si cewek pasrah saja. Karena dibilang sama si pelaku dia akan tanggung jawab, tuh," ujar Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bekasi Muhamad Rojak ketika dimintai konfirmasi.

Pelaku memperkosa korban di kontrakannya di Desa Mangunjaya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, dan di losmen di daerah Cibitung, Kabupaten Bekasi. Selama 1 tahun berpacaran itu, korban disetubuhi pelaku hingga lima kali.

"Terakhir kali (diperkosa) bulan September 2018. Sejak 2018 (diperkosa)," ujar Rojak.

Rojak mengatakan pelaku kabur dari kontrakannya. Sampai saat ini, pelaku belum diketahui keberadaannya. Bandar Judi Poker Online

http://temanpoker99.info/app/Default0.aspx?lang=id

"Sempat dimediasi agar cowoknya bertanggung jawab. Ternyata, saat menemui keluarga pelaku, rumahnya sudah terkunci dan pelaku nggak tanggung jawab," ujar Rojak.

Akibat perbuatan pelaku, saat ini korban dalam kondisi hamil 4 bulan. Korban sudah 3 minggu tidak masuk sekolah karena usia kehamilan.

"Nanti kalau persalinan sudah (selesai), anak ini harus lanjut pendidikan kembali dan jawaban si anak dia ingin pindah sekolah," ujar Rojak.

"Ia berstatus masih pelajar di salah satu sekolah SMP di Tambun Selatan kelas VIII. Korban tinggal bersama ayah dan kedua kakaknya di Mangunjaya," ujar Rojak.

KPAD Kabupaten Bekasi, kata Rojak, telah mengantongi identitas pelaku. "Kami sudah dapati identitas lengkap pelaku berupa e-KTP dan draf kartu keluarga pelaku," ujar Rojak.

Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Bekasi. Laporan korban tertuang dalam nomor laporan LP/86/64-SPKT/K/I/2019/Restro Bekasi.

"Untuk saat ini anak kegiatan belajarnya dilakukan di tempat tinggalnya. Kami akan berkoordinasi dengan pihak sekolah agar anak korban ini tidak dikeluarkan dari sekolahnya sampai selesai waktunya anak korban ini melahirkan anaknya. Kami juga mendorong korban dan keluarga untuk kami bantu daftarkan sebagai peserta BPJS dan mendapat bantuan program Bekasi Cerdas di Baznas Kabupaten Bekasi," ujar Rojak.

Remaja 17 Tahun Diperkosa dan Kerap Dicekoki Narkoba

https://jurnalulasan.blogspot.com/

Seorang remaja wanita berinisial AF (17) nekat loncat dari jembatan penyebrangan orang ( JPO) di Jalan Margonda, tepatnya depan Terminal Depok, pada Rabu (10/7/2019) lalu.

Kepala Dinas Sosial Kota Depok, Usman Haliyana mengatakan, AF sempat dibawa oleh anggota kepolisian ke Kantor Dinsos setelah kejadian.

Saat diperiksa, kata Usman, AF mengaku tertekan menjalani hidupnya.

Sebab AF selalu dipaksa oleh seorang laki-laki hidung belang untuk melayani nafsunya sehari-hari. Tidak hanya itu, AF juga kerap dicekoki obat-obatan terlarang.

"Jadi kalau tidak dipenuhi kemauan laki-laki ini, kata korban dia diancam dibunuh," ujar Usman saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (11/7/2019).

Meski demikian, Usman belum mengetahui identitas dan hubungan laki-laki hidung belang itu terhadap AF. Bandar Judi Togel Online

http://togel303.net/

"Belum tahu, saya belum sampai ke situ (tanyanya)," tuturnya.

Hal senada disampaikan oleh Kapolsek Pancoran Mas, Kompol Roni Wowor. Roni membenarkan ada peristiwa tersebut.

"Iya saya dapat laporannya ada wanita remaja yang mau lakukan percobaan bunuh diri," ujar Roni.

Namun, Roni menyampaikan versi yang berbeda. Kata dia, AF meloncat karena frustasi terhadap pacarnya.

Namun saat dibawa oleh petugas, AF sedang dalam pengaruh obat-obatan terlarang. Oleh karena itu, polisi juga masih kesulitan meminta keterangannya.

"Katanya sih korban frustasi sama pacarnya. Namun, ketika ditanya lebih detail eh dia malah ngaco," ucap Roni.

Saat ini kasus tersebut tengah dalam penanganan unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Depok.

Kamis, 11 Juli 2019

Kronologi Tewasnya Marudut Tua Rupanya Dibantai Pakai Kayu dan Kunci Pas

https://jurnalulasan.blogspot.com/

Polres Siantar menggelar konferensi pers pengungkapan kematian Marudut Tua Sinaga (23), warga Panei Tongah, Simalungun yang tewas akibat dimassa di Jalan Diponegoro, Minggu (7/7/2019) dinihari lalu.

Lima tersangka pelaku penganiayaan di Jalan Dipenogoro itu dihadirkan di halaman Kantor Satuan Reserse Kriminal Mapolres Siantar, Kamis (11/7/2019) sekira pukul 16.00 Wib.

Para tersangka adalah, Jaya Purnama (23) dan Rizal (22) keduanya warga Jalan Beringin, Kelurahan Sinaksak, Simalungun. Rezi Aruanda (24), warga Jalan Tangki, Kelurahan Nagapita, Siantar Martoba, Frengki Cia (23), warga Jalan Gereja, Kelurahan Kristen, Siantar Selatan dan Rahmat Faisal Sipayung (32) warga jalan Aru, Kelurahan Bantan, Siantar Barat.

Kapolres AKBP Heribertus Ompusunggu dalam keterangannya kepada wartawan mengungkapkan penyebab utama kematian korban.

“Jadi, Marudut Tua Sinaga awalnya memalak Jaya Purnama dan Rizal dengan meminta uang untuk makan. Lantaran tak terima, keduanya langsung memanggil teman-temannya dan melakukan pengeroyokan terhadap Marudut Tua Sinaga hingga meninggal dunia,” kata Heribertus.

Lanjut dijelaskan Heribertus, antara Marudut dan para pelaku sebelumnya tidak saling kenal.

“Para pelaku melakukan kekerasan dengan memukul korban menggunakan alat. Pelaku Frengki memungkul kaki dan bahu sebelah kanan menggunakan kayu,” ujar dia.

“Sedangkan, Jaya Purnama memukul kepala korban dengan kunci pas sebanyak 2 kali dan lainnya juga menendang dan memukilinya,” bebernya. Bandar Judi Togel Online

http://togel303.net/

Dari pengungkapan itu, polisi menyita barang bukti berupa 1 unit sepedamotor BK 2040 TBH. “Sedangkan kunci PAS dan kayu masih dalam pencarian,” ungkapnya.

Heribertus juga menjelaskan bahwa kelima tersangka ditangkap di lokasi berbeda dalam waktu kurang dari 24 jam setelah peristiwa itu diketahui.

“Kelima tersangka dikenakan pasal 170 ayat (2) angka 3e dan pasal 351 ayat (3) KUHP dan Psl 170 ayat (2) angka 3e KUHP 12 tahun penjara dan pasal 351 ayat (3) KUHP ancaman hukuman 7 tahun.

Rabu, 10 Juli 2019

Terkait Kasus Novel Baswedan Ada 3 Jenderal Aktif Diperiksa TGPF


https://jurnalulasan.blogspot.com/

Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan yang dibentuk Kapolri, telah selesai melakukan tugasnya.

Hasil investigasi TGPF selama enam bulan, diserahkan ke Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Selasa (9/7/2019) malam.

Anggota TGPF Hermawan Kiki Sulistyo menyebut, ada tiga jenderal aktif yang turut diperiksa selama masa investigasi pihaknya.

Namun, ia tak membeberkan siapa jenderal tersebut serta asal institusinya, apakah Polri atau TNI.

Menurutnya, semua hasil investigasi akan dibeberkan pihaknya pekan depan, setelah hasil dibaca dan diterima Kapolri, Selasa malam.

"Pada kasus ini, ada tiga jenderal aktif yang diperiksa. Juga ada jenderal bintang tiga," kata Hermawan di Mabes Polri, Selasa (9/7/2019).

Hermawan mengatakan, tiga jenderal tersebut diperiksa merujuk pada penyelidikan yang telah dilakukan.

Ia memastikan TGPF bekerja secara independen.

“Semua kami periksa lagi sesuai dari hasil penyelidikan yang lama. Kami bekerja independen. Berdasar penyelidikan yang dilakukan tim dahulu."

"Kami ada dari Polri, Polda Metro, Ombudsman, Komnas HAM, kan ada laporannya,” ujarnya.

Sementara, anggota TGPF Nurcholis mengatakan, hasil investigasi pihaknya akan disampaikan ke publik pekan depan. Bandar Judi Togel Online

http://togel303.net/

Ia memastikan laporan investigasi yang disusun telah lengkap.

"Saya pastikan laporan sudah lengkap. Tim teknis akan menyiapkan," ucap Nurkholis di Mabes Polri, Selasa (9/7/2019).

Nurkholis menyebut, laporan tersebut telah disampaikan pada Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

"Karena setelah diskusi hari ini tentu kami sangat menghargai masukan dari Pak Kapolri."

"Dan juga walaupun secara substansi menurut kami tidak banyak berubah, tetapi layaknya sebagai sebuah laporan, tentu harus ada perbaikan di sana-sini," tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Hendardi yang juga anggota TGPF menyebut hasil investigasi tersebut merujuk pada sebagian penyelidikan Polri sebelumnya.

Tim kemudian melakukan pengembangan seperti memeriksa saksi, dan reka ulang tempat kejadian perkara.

"Itu yang kami coba uji kembali, termasuk adalah kegiatan reka ulang TKP, penjelajahan saksi-saksi terhadap alibi-alibi, termasuk mengembangkan saksi-saksi."

"Kenapa kami ke Ambon, ke Malang, dan lainnya, itu dalam rangka pengembangan saksi-saksi, bukan pelesiran," ungkap Hendardi.

Novel Baswedan diserang oleh dua pengendara motor pada 11 April 2017, seusai Salat Subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Pelaku menyiramkan air keras ke arah kedua mata Novel Baswedan, sehingga mengakibatkan mata kirinya buta.

Sebelumnya, tim advokasi Novel Baswedan, mengungkap fakta baru terkait pelaku penyerangan terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut.

Alghiffari Aqsa, salah satu penasihat hukum Novel Baswedan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, menyebut adanya keterlibatan oknum anggota kepolisian dalam teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK itu.

Alghiffari mengaku mendapat informasi tersebut dari salah satu anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Novel Baswedan pada Mei 2019.

"Ada satu poin penting yang disampaikan bulan (Mei) lalu oleh salah satu tim gabungan," kata Alghiffari di Gedung Merah Putih KPK, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2019).

"Yaitu adanya kuat dugaan keterlibatan oknum anggota kepolisian dalam kasus kekerasan terhadap Novel Baswedan," sambungnya.

Tim advokasi hari ini akan mendampingi Novel Baswedan untuk diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya di Gedung KPK.

Salah satu hal yang ingin diklarifikasi oleh tim advokasi, kata Alghiffari, adalah ingin menguatkan bukti adanya keterlibatan oknum anggota kepolisian tersebut.

"Kami hari ini ingin mengklarifikasi hal tersebut, dan ingin agar fakta-fakta tersebut dieksplorasi di pemeriksaan kasus Mas Novel Baswedan," paparnya.

"Mas Novel Baswedan sudah di dalam (Gedung KPK), sudah siap," imbuhnya.

Sebelumnya, Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, Novel Baswedan akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus penyerangan menggunakan air keras pada 11 April 2017.

Sebab, hingga kini belum juga terpecahkan pelaku dan aktor intelektual di balik penyerangan tersebut.

"Jadi, akan dilakukan pemeriksaan. Tadi saya sudah cek juga, Novel Baswedan akan dalam pemeriksaan tersebut untuk menghargai proses hukum ini,” jelas Febri Diansyah kepada wartawan, Rabu (19/6/2019).

Novel Baswedan diserang oleh dua pengendara motor pada 11 April 2017, seusai salat subuh di Masjid Al-Ihsan tidak jauh dari rumahnya.

Pelaku menyiramkan air keras ke wajah Novel Baswedan, sehingga mengakibatkan mata kirinya tidak dapat melihat.

Mata kirinya mengalami kerusakan yang lebih parah dibanding mata kanannya. Hingga kini, polisi belum juga menentukan tersangkanya.

Sebelumnya Wartakotalive memberitakan, dua tahun sudah, tepatnya pada Kamis (11/4/2019), kasus penyiraman air keras yang dialami penyidik senior KPK Novel Baswedan tak kunjung terungkap.

Beragam aksi telah dilakoni Wadah Pegawai KPK untuk mengingatkan bahwa kasus Novel Baswedan, sahabat mereka, penting dan harus segera terungkap.

Pada 27 Juli 2018 silam, Wadah Pegawai KPK memajang dua unit sepeda di lobi Gedung KPK. ‎Sepeda ini bisa dibawa pulang oleh mereka yang bisa menyebut pelaku teror terhadap Novel Baswedan.

Tidak hanya sepeda, ada juga TV layar datar yang terus mengupdate waktu lamanya pengungkapan kasus Novel Baswedan.

Melengkapi jam waktu itu, ada pula tulisan 'Sejak Novel Baswedan Diserang, Selama Itu Pula Polisi Gagal Ungkap Pelaku.'

‎Lantas, bagaimana respons Presiden Jokowi terhadap kasus Novel Baswedan yang cenderung jalan di tempat?

Menjawab itu, Jokowi menyerahkan sepenuhnya pada tim gabungan yang telah dibentuk.

"Itu kan sudah ada tim gabungan terdiri dari polisi, Ombudsman, dan KPK sendiri. Tanyakan kepada mereka, kejar mereka hasilnya seperti apa" papar Jokowi di kawasan Sentul, Jawa Barat, Jumat (12/4/2019).

"Jangan dikembalikan ke saya lagi. Apa gunanya sudah dibentuk tim gabungan seperti itu?" tambah Jokowi.

Kembali ditanya bagaimana jika memang belum ada hasil atau titik terang yang didapatkan oleh tim gabungan, Jokowi kembali meminta agar perkembangan kasus ditanyakan langsung ke tim gabungan.

"Ya tanyakan ke mereka (tim gabungan), belum ditanyakan ke sana kok," ucapnya.

Akibat teror yang diterima Novel Baswedan, mata kirinya mengalami kerusakan hingga 95 persen, begitu juga dengan mata kanan yang tidak dapat‎ melihat sempurna.

Guna mengobati matanya, Novel Baswedan selama berbulan-bulan harus mendapatkan perawatan mata khusus di Singapura, serta beberapa kali menjalani operasi mata.

Sebelumnya, Novel Baswedan mengaku tidak takut menghadapi teror.

Pasca-penyiraman air keras yang dialami tepat dua tahun silam, ada saja teror yang dialamatkan kepadanya dan anggota KPK lainnya.

“Itu (teror) sedikit banyak ada. Intinya saya mau katakan mau teror seperti apa pun saya enggak akan takut,” kata Novel Baswedan di kediamannya, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (11/4/2019).

Menurut Novel Baswedan, teror yang dialamatkan kepada anggota KPK, harus menjadi perhatian tersendiri oleh pemerintah.

Jangan sampai dalam hal ini negara, katanya, hanya berpangku tangan menghadapi kondisi tersebut.

“Poin yang paling penting adalah teror-teror begini enggak boleh dibiarkan. Karena kalau dibiarkan, seolah-olah negara kalah, seolah-olah negara abai. Ini hal yang penting,” tegas Novel Baswedan.

Sebab, apabila terus menerus dibiarkan, maka secara tidak langsung negara akan kalah, dan upaya pemberantasan korupsi yang menjadi tugas utama dibentuknya KPK, bakal mengalami hambatan.

"Karena kalau dibiarkan negara seolah kalah, negara seolah-olah abai," ucap Novel Baswedan.

Novel Baswedan lantas mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), agar pelaku penyiraman air keras terhadap dirinya pada dua tahun lalu, bisa segera terungkap.

“Apakah kita terus kemudian akan membiarkan ini semua? Tentunya ketika saya dan teman-teman mendesak kepada Bapak Presiden untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF),” tegas Novel Baswedan.

Novel Baswedan beralasan tim gabungan yang dibentuk Polri dan dikomandoi Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dinilai tidak serius mengungkap pelaku penyiraman air keras terhadap dirinya, dan serangan lainnya yang ditujukan kepada anggota KPK.

“Karena memang realitanya penegak hukum atau saya katakan Pak Kapolri tidak dengan sungguh-sungguh untuk mengungkap."

"Bahkan, tidak ada satu pun yang terungkap dari sekian banyak serangan-serangan itu,” papar Novel Baswedan.

Novel Baswedan menganggap penanganan kasus yang dialaminya mengalami kebuntuan. Padahal, bukti-bukti yang dibutuhkan sebenarnya sudah ada.

Novel Baswedan pun meminta agar Jokowi bertindak mengungkap kebenaran.

“Tentunya sebagai pemimpin kita, Pak Jokowi, kita berharap beliau membukakan jalan bagi upaya menegakkan kebenaran dan keadilan yang menemui jalan buntu ini,” harap Novel Baswedan.

Polri pernah mengeluarkan surat tugas pada 8 Januari 2019 silam dan ditandatangani oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian, untuk membentuk tim khusus mengusut kasus penyerangan yang dialami Novel Baswedan.

Pembentukan tim khusus melalui surat tugas itu untuk menindaklanjuti rekomendasi tim Komnas HAM dalam penuntasan kasus Novel Baswedan.

Tim khusus itu terdiri dari 65 orang dari berbagai unsur, di antaranya pakar, internal KPK, dan kepolisian.

Novel Baswedan juga meminta kontestan Pilpres 2019 memiliki komitmen memberantas korupsi.

Novel Baswedan menganggap momen Pilpres 2019 adalah waktu yang tepat bagi masing-masing kontestan, untuk menunjukkan komitmen tersebut.

“Saya mengajak semua masyarakat elemen bangsa untuk mendesak Bapak Presiden, untuk mendesak kepada masing-masing calon presiden, untuk menyampaikan komitmen, menyampaikan janjinya terkait upaya pemberantasan korupsi ke depan mau seperti apa,” beber Novel Baswedan.

Novel Baswedan menambahkan, Presiden terpilih nantinya harus memprioritaskan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.

Sebab, agar menjadi negara maju, pemerintah harus memikirkan proses penegakan hukum dan pemberantasan korupsi berjalan baik.

“Tidak pernah ada negara mana pun yang penegakan hukumnya bermasalah dan negara itu maju. Yang ada, kalau penegakan hukum bermasalah, pemberantasan korupsinya mundur, pasti negara itu tidak maju,” ulasnya.

Novel Baswedan menambahkan, apabila hal itu bisa terwujud, maka tugas KPK memberantas korupsi akan berjalan maksimal, dan tidak ada lagi teror seperti yang dialami dirinya pada 2017 silam, berupa penyiraman air keras.

Pilpres 2019 diikuti dua pasang calon, yakni pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan Maruf Amin, serta pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan Baswedan terjadi pada dua tahun silam, yakni pada 11 April 2017.

Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tidak dikenal, seusai menunaikan salat subuh di Masjid Al Ihsan yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Selasa, 09 Juli 2019

Remaja 17 Tahun Hamil 5 Bulan, Diselingkuhi Abang Ipar

https://jurnalulasan.blogspot.com/2019/07/remaja-17-tahun-hamil-5-bulan.html

Tinggal serumah dengan adik ipar membuat HR gelap mata dan sanggup melupakan istri sendiri. Tubuh ranum sang adik ipar–sebut saja namanya Mawar–yang masih baru lulus SMP, membuat ayah 2 anak itu tak mampu membendung birahinya.

Prinsip HR ketika itu mungkin, ‘Coba-coba menanam mumbang, siapa tau tumbuh kelapa’. Gayung ternyata bersambut, tapi bukan kelapa yang tumbuh, melainkan janin di tubuh sang adik ipar.

Perselingkuhan itu kemudian berusaha ditutupi dengan berbagai cara. Namun, sepandai-pandai menyimpan bangkai, bau busuk akhirnya tercium juga. Demikian halnya dengan hubungan terlarang tersebut. Perut Mawar akhirnya ‘membengkak’ setelah berulangkali memacu birahi dengan abang iparnya.

Sang istri TN dan pihak keluarganyua tak terima dengan kelakuan HR. Alhasil, pria 28 tahun itu diboyong ke Mapolsek Sunggal. Sementara Mawar, hanya bisa merenungi nasibnya dengan kandungan yang sudah berusia 5 bulan. Bandar Judi Togel Online

http://togel303.net/

Kisah perselingkuhan klasik yang terjadi di Dusun II, Desa Sumber Melati Diski, Sunggal, Deliserdang ini terungkap Minggu (7/7/2019) kemarin.

Awalnya, keluarga Mawar curiga dengan bentuk perut sang putri yang kian hari kian membesar.

“Waktu ditanyai kenapa perutnya membesar, Si Mawar ini sempat berdalih karena dia suka minum es, jadi gembung,” bebernya, Senin (8/7/2019).

Dalih itu ternyata tak cukup kuat untuk meyakinkan pihak keluarga. Pihak keluarga Mawar segera menginterogasi anak kedua dari 3 bersaudara itu hingga akhirnya Mawar buka suara.

Remaja 17 tahun itu pun mengaku sedang hamil 5 bulan, dan itu adalah buah dari hubungan gelapnya dengan sang abang ipar HR.

Duarr!! Pengakuan itu ibarat petir menyambar di siang bolong. Keluarga Mawar kaget bukan kepalang dan hampir tak percaya.

“Lama-lama ditanyain, ngaku juga. Dibilangnya abang iparnya itu yang gituin dia sampai hamil,” jelas sumber itu.

Setelah memastikan pengakuan tersebut, keluarga Mawar kemudian memanggil HR. Saat ditanyai, pria itu sedikit pun tak menampik keterangan Mawar.

Ironisnya, HR mengaku bersedia menanggungjawabi segala perbuatannya terhadap sang adik ipar, meski itu artinya akan melupakan tanggungjawabnya sebagai suami dari istri dan ayah terhadap 2 anaknya. “Dia udah ngaku juga sama isterinya. Katanya dia mau tanggungjawab,” sebutnya.

Namun, persoalan tentu tak semudah itu. Keluarga Mawar tak bisa menerima. Keributan pun terjadi dan nyaris berujung perkelahian.

Hubungan gelap antara HR dan Mawar sudah terjadi selama setahun belakangan. Bahkan, menurut pengakuan Mawar, dia sudah puluhan kali digauli HR.

“Mereka tiga bersaudara, yang pertama si TN, terus Mawar anak kedua, yang bungsu laki-laki. Mereka tinggal satu rumah. Di rumah itu lah Mawar digauli abang iparnya,” ungkap sumber.

Uniknya, tak tampak penyesalan, baik dari HR maupun Mawar. Keduanya mengaku melakukan tindakan tersebut atas dasar saling cinta.

“Sama-sama mau mereka bang. Makanya nggak ada kayak nyesal gitu. Kalau kata si laki-laki, cuma 5 kali digaulinya. Tapi kalau kata si perempuan, udah hampir 20 kali,” bebernya.

Setiap kali HR minta ‘jatah’ pada adik iparnya, itu dengan bahasa isyarat.

“Si HR ini sering tidur di ruang tamu. Jadi kalau dia mau minta jatah, dia melempar punggung adiknya itu dengan rokok. Tandanya udah minta lah itu. Kalau kata si Mawar, kadang-kadang dua hari sekali si HR itu minta jatah,” lanjutnya.

Pengakuan HR membuat keluarga Mawar marah tak karu-karuan. Keributan pun sempat terjadi di kediaman HR. Sanak keluarga Mawar pun emosi dan sempat akan menghakimi pria itu.

Beruntung, aksi main hakim sendiri itu tak sampai terjadi. Babinsa setempat, Koptu Dedi Arpianto yang mendengar informasi itu segera tiba ke rumah tersebut dan langsung menghubungi kepala Desa SM Diski Sariman SPdI MPsI serta Babinkamtibmas Aiptu Imran Gultom.

“Untunglah Babinsa cepat datang dan langsung ditengahi. Kumpullah semua keluarga, sama Babinkamtibmas dan kepala Desa. Terus dibawa si HR ke Polsek Sunggal,” jelasnya.

Informasi terakhir, HR untuk sementara harus mendekam di sel Mapolsek Sunggal dan pihak keluarga Mawar pun telah membawa Mawar ke rumah sakit Bhayangkara untuk visum melengkapi berkas laporan.

Namun, ketika hal itu coba dikonfirmasi kepada Kanit Reskrim Polsek Sunggal Iptu Syarif Ginting, belum diperoleh jawaban hingga saat ini.

Terpisah, Kepala Desa SM Diski, Sariman SPdI MPsI, membenarkan pihaknya ada menengahi keributan warganya.

“Iya, semalam saya mendapat informasi dari Babinsa bahwa warga saya ada ribut-ribut. Jadi semalam sudah kita tengahi dan dirembukkan. Untuk kelanjutannya, saya belum mendapat kabar,” jawabnya.

Minggu, 07 Juli 2019

Polisi Ringkus 5 Pelaku Pengeroyokan Marudut Tua Sinaga, Begini Kronologi Kejadiannya!

https://jurnalulasan.blogspot.com/

Kurang dari 24 jam, personel Unit Jatanras bersama Sat Intelkam Polres Pematangsiantar berhasil meringkus 5 pelaku pengeroyokan Marudut Tua Sinaga, Minggu (7/7/2019) malam.

Diketahui, Marudut Tua Sinaga sebelumnya dikeroyok hingga sekarat di Jalan Dipenogoro, Kelurahan Proklamasi, Kecamatan Siantar Barat, Minggu (7/7/2019) dinihari.

Pemuda asal Panei Tongah itu kemudian meninggal dunia Minggu (7/11/2019) sekira pukul 11.00 Wib, beberapa jam setelah mendapat perawatan di RSUD Djasamen Saragih, Pematangsiantar.

Kasat Reskrim Polres Pematang Siantar dalam keterangannya melalui Kanit Jatanras Iptu Yuken Saragih mengatakan, kelima tersangka ditangkap setelah orangtua Marudut merasa keberatan lalu membuat pengaduan resmi ke Mapolres Siantar, sesuai Laporan Polisi nomor: LP/335/VII/2019/SU/STR.

Kelima tersangka yang ditangkap adalah Jaya Purnama (23) dan Rizal (22) keduanya warga Jalan Beringin, Kelurahan Sinaksak, Simalungun.

Rezi Aruanda (24), warga Jalan Tangki, Kelurahan Nagapita, Siantar Martoba, Frengki Cia (23), warga Jalan Gereja, Kelurahan Kristen, Siantar Selatan dan Rahmat Faisal Sipayung (32) warga jalan Aru, Kelurahan Bantan, Siantar Barat.

Peristiwa itu, jelas Yuken, berawal ketika Jaya Purnama, Rizal dan temannya Eban sedang minum tuak di pinggiran Jalan Sudirman Kelurahan Proklamasi, Kecamatan Siantar Barat, Minggu (7/7/2019) sekira pukul 03.30 Wib. Bandar Judi Togel Online

http://togel303.net/

Tak lama kemudian, korban Marudut datang bersama seorang temannya mengendarai sepedamotor lalu menghampiri Jaya dan kawan-kawan.

“Mari uang mu dulu Rp100 ribu buat makan,” kata Marudut kepada Jaya ketika itu, seperti dituturkan Iptu Yuken.

Jaya dan kawan-kawannya kemudian mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai uang yang diminta Marudut.

“Saat itu, Marudut langsung menodongkan pisau ke leher Jaya,” jelas Yuken.

Namun tak lama kemudian, dia melepaskan todongan pisau itu. “Tunggu ya! Nanti aku datang ke sini, aku mau ngambil uang dulu ke sana,” ucap Marudut kembali, sembari pergi mengendarai sepeda motor ke arah Jalan Merdeka.

“Tak terima perlakuan itu, Jaya dan kawan-kawan kemudian mencari korban di seputaran Jalan Dipenogoro dan sempat terjadi aksi kejar-kejaran antara pelaku dan korban,” imbuh Yuken.

Setelah Marudut tertangkap, Jaya dkk langsung memukuli Marudut hingga terkapar berlumuran darah di pinggiran Jalan Diponegoro, tepatnya di depan Warnet 911.

Tak lama kemudian, polisi tiba di lokasi lalu mengamankan Marudut dan membawanya ke RSUD Djasamen Saragih berikut 1 unit sepedamotor yang dikendarainya ke Mapolres Pematangsiantar.

“Awalnya orangtua korban sudah membuat surat pernyataan tidak keberatan atas kejadian tersebut dan meminta agar tidak dilakukan otopsi terhadap jenazah korban,” jelas Yuken, Senin (8/72019) sekira pukul 10.00 Wib.

Setelah penyidik melengkapi surat pernyataan tidak keberatan dan tidak bersedia diotopsi dan kemudian ditandatangani, orangtua Marudut bersama penyidik berangkat ke RSUD Djasamen Saragih.

“Di rumah sakit, ada pihak keluarga korban merasa keberatan. Akhirnya orangtua korban membuat pengaduan dan selanjutnya dilakukan otopsi terhadap jenazah korban,” sambung Yuken.

Berdasarkan pengaduan orangtua Marudut, tim gabungan yang dipimpin Kanit Jatanras Iptu Yuken Saragih dibantu Kasat Intelkam AKP AR Samosir kemudian melakukan penyelidikan untuk mencari para pelaku.

“Tersangka pertama yang kita tangkap adalah Frengki. Dia kita amakan dari Restoran Internasional tempatnya bekerja,” sebut Yuken.

Selanjutnya, berdasarkan pengakuan Frengki, polisi melakukan pengembangan dan mengamankan 4 tersangka lainnya secara terpisah.

“Kelima tersangka kita kenakan pasal 170 ayat 2 ke 3e Subs 351 ayat 3 KUHPidana,” pungkasnya.