Kamis, 23 November 2017

Gadis Berusia 12 Tahun Ini Mendedikasikan Hidupnya Untuk Menyekolahkan Keempat Kakaknya, Namun Hal Tragis Ini Justru Terjadi

Kisah ini menceritakan tentang Shen Chun-Ling, seorang gadis yang meninggal pada usianya yang ke 12 namun diperlakukan dengan sangat terhormat oleh keempat kakak laki-lakinya mengenakan baju kabung yang seharusnya hanya diperuntukkan pada saat orangtua meninggal.
Tidak hanya keluarga mereka, bahkan seluruh penduduk desa pun mengenakan baju kabung dengan kain sutra demi mengantar kepergiannya. Gadis ini sebenarnya tidak memiliki hubungan darah apapun dengan kakak-kakaknya. Dia hanyalah seorang anak tiri yang tidak memiliki status kependudukan di dalam keluarganya. Ayah tirinya yang lumpuh dan ibunya yang meninggalkan keluarga mereka membuat gadis kecil ini mengumpulkan tekad dan tenaganya di atas bahunya yang kecil demi keempat kakaknya memperoleh ijazah perguruan tinggi.

Ayah Chun-Ling yang sempat berprofesi sebagai tukang kayu sangat menyayanginya. Keempat kakaknya pun sangat mencintai adik kecil mereka ini.
Suatu hari saat sang ayah bekerja, ia terjatuh dari sebuah bangunan bertingkat 3 dan semenjak hal itu terjadi, sang ayah terbaring lumpuh di atas ranjang, dan perekonomian keluarga mulai jatuh. Ketika anak-anak pria di keluarga ini berniat untuk putus sekolah dan mulai bekerja memenuhi kebutuhan keluarga, Chun-Ling mengumpulkan keberanian dan niatnya untuk menghentikan pendidikannya dan membantu ibunya menanggung perekonomian keluarga. Kakak-kakaknya yang mendengar hal ini segera menggandeng tangan Chun-Ling dan bersumpah di samping ranjang ayah mereka, "Kebaikan yang telah adik kami berikan tidak akan kami lupakan dan pasti akan kami balas berkali-kali lipat."
Ironisnya, sang ibu yang tidak bisa bertahan dengan kerasnya kehidupan yang ia jalani melarikan diri dari rumah dan tidak pernah terlihat lagi. Pada saat ini, Chun-Ling dengan tubuhnya yang kecil harus menanggung perekonomian keluarga mereka, biaya sekolah kakak-kakaknya, dan tidak hanya itu, ia juga harus menyelesaikan pekerjaan rumah. Demi mendapat uang lebih, Chun-Ling juga tidak ragu-ragu untuk pergi ke rumah sakit untuk menjual darahnya. Para dokter yang tidak tega akan keadaannya akhirnya hanya mengambil sedikit dari darah yang seharusnya dan memberikan bayaran yang lebih dari uang yang berasal dari kantong mereka.

Imlek tahun 1997 yang lalu adalah Imlek yang paling membahagiakan bagi Chun-Ling. Selain kakaknya yang keempat yang sedang wajib militer, ketiga kakaknya yang lain pulang ke rumah membawa baju baru, syal baru, dan perlengkapan dandan bagi adiknya ini. Chun-Ling yang menerima hal ini melompat kegirangan.
Saat ini ayahnya memanggil putra-putranya dan berkata, "Setelah kalian dewasa, kalian mungkin akan melupakan saya, tapi perjuangan adik kalian ini tidak boleh kalian lupakan sedikitpun."
Pada suatu hari di bulan Agustus tahun 1998, demi memenuhi kebutuhan kuliah keempat kakaknya, Chun-Ling berniat untuk sekali lagi menjual darahnya. Karena permintaannya, dokter yang melayaninya mengambil 300 cc dari darahnya. Tubuh kecil yang lemah dan kekurangan gizi ini semakin lemah setelah ia menjual darahnya. Namun semangatnya yang tidak pernah pudar terus membuatnya tidak menyerah. Namun ketika ia berjalan ke kantor pos untuk mengirimkan uang, hal yang tidak diinginkan terjadi… Tidak pernah ada yang menyangka akan ada sebuah truk besar yang lewat ketika Chun-Ling menyeberang jalan. Tubuh Chun-Ling yang kecil itu terlewati oleh roda truk yang besar dan dalam sekejap saja, tubuh kecil itu terkulai tak berdaya di tengah jalan.
Keempat kakaknya yang mendengar berita ini segera kembali pulang ke kampung halaman mereka, berlari ke samping tubuh adik kecilnya dan menangis di hadapan jasadnya.

Menurut kebudayaan yang berlaku di desa mereka, upacara pemakaman tidak boleh dilakukan untuk seorang gadis yang belum dewasa. Tetapi para tetua di desa tersebut tersentuh dengan kebaikan Chun-Ling dan akhirnya mengizinkan bukan hanya pemakaman biasa, namun pemakaman khusus yang diperuntukkan bagi orang-orang yang dihormati bagi gadis kecil ini. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menggali kuburnya di hutan yang sudah diwariskan turun temurun bagi desa ini.
Banyak orang yang berkata sambil menangis, "Anak yang sebaik ini jasanya harus diingat sepanjang masa dan pengorbanannya dihormati turun temurun."


EmoticonEmoticon